Peninggalan Kerajaan Majapahit

Peninggalan Kerajaan Majapahit

Peninggalan kerajaan Majapahit – Kerajaan Majapahit termasuk salah satu kerajaan terbesar dan terkuat di Indonesia. Kerajaan ini memerintah selama ratusan tahun yaitu sekitar tahun 1293 sampai 1500 M dengan 13 orang Raja yang pernah berkuasa. Majapahit menganut ajaran Hindu Budha dan memusatkan pemerintahannya di wilayah sekitar Jawa Timur.

Kerajaan ini sempat mencapai masa keemasan dengan berhasil menaklukkan hampir sebagian besar wilayah Nusantara dan sekitarnya pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk yaitu sekitar tahun 1350 sampai 1389.

Sedemikian besar pengaruh dan kekuatannya, tidak mengherankan jika kemudian kerajaan ini banyak meninggalkan warisan budaya seperti candi, prasasti, kitab, arca dan peninggalan lainnya yang akan kita bahas satu persatu.

Peninggalan Kerajaan Majapahit

Peninggalan Kerajaan Majapahit

Bеrіkut ini akan dіjеlаѕkаn tentang ѕіtuѕ ѕеjаrаh реnіnggаlаn Kerajaan Mаjараhіt, bаіk itu yang bеruра саndі, gapura, рrаѕаѕtі, arca, kitab dаn ѕіtuѕ arkeologi lаіn dаlаm ѕеjаrаh Kеrаjааn Mаjараhіt.

Candi Peninggalan Kerajaan Majapahit

Candi adalah bangunan peninggalan purbakala yang difungsikan sebagai tempat peribadatan pada masa atau peradaban Hindu Budha. Ada puluhan candi peninggalan kerajaan Majapahit, diantaranya adalah :

  • Candi Tikus

Candi Tikus ditemukan di wilayah dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Candi ini terkubur di dalam tanah dan ditemukan sekitar tahun 1914. Nama tikus digunakan karena pada awal penemuannya, candi ini dijadikan sarang oleh tikus. Menurut beberapa ahli, Candi Tikus selain dipergunakan untuk tempat pemujaan oleh penduduk Majapahit, juga dipergunakan sebagai petirtaan, tempat mandi keluarga raja dan juga tempat penampungan dan penyaluran air untuk keperluan penduduk Trowulan.

  • Candi Bajang Ratu

Candi Bajang Ratu ditemukan  di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Candi ini berupa gapura besar yang berfungsi sebagai pintu masuk ke bangunan suci sekaligus sebagai pintu belakang kerajaan. Candi Bajang Ratu diperkirakan didirikan pada sekitar abad ke 14. Nama Bajang Ratu pertama kali ditemukan pada tahun 1915.

  • Candi Sukuh

Candi ini ditemukan di wilayah Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini dibangun di akhir masa pemerintahan kerajaan Majapahit. Candi ini dibuat untuk tujuan melakukan ruwat dan sembayang. Candi Sukuh terdiri dari tiga teras di mana setiap terasnya memiliki relief dan patung yang berbeda-beda.

  • Candi Brahu

Candi Brahu terletak di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Candi ini diperkirakan berdiri pada abad ke 15 dan dipergunakan sebagai tempat pembakaran jenazah raja-raja.

  • Candi Wringin Lawang

Candi ini lebih tepatnya disebut Gapura Wringin Lawang karena bangunan ini berbentuk gapura atau pintu. Gapura ini berada di Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Gapura agung ini diperkirakan didirikan pada abad ke 14 dan berfungsi sebagai pintu masuk ke area penting kerajaan Majapahit. Arti kata Wringin Lawang adalah Pintu Pohon Beringin karena pintu gerbang ini berdiri tepat di sebelah pohon Beringin yang sangat besar.

  • Candi Ceto

Nama Candi Ceto diambil dari nama lokasinya yaitu Dusun Ceto yang berlokasi di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini dibangun pada akhir masa kerajaan Majapahit yaitu sekitar abad ke 15. Candi Ceto dipergunakan sebagai tempat pemujaan bagi penduduk yang beragama Hindu. Selain itu, Candi ini juga dipakai sebagai tempat pertapaan bagi penganut kepercayaan Kejawen.

  • Candi Surawana

Candi ini juga dikenal dengan nama Candi Wishnubhawanapura dibangun perkiraan pada abad ke 14. Candi Surawana terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Candi ini dibangun untuk menghormati Bhre Wengker yaitu seorang raja dari Kerajaan Wengker yang berada di bawah kekuasaan Majapahit.

  • Candi Wringin Branjang

Candi yang terletak di Desa Gadungan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur ini memiliki bentuk yang sangat sederhana. Didirikan sekitar abad ke 15, Candi Wringin Branjang diduga berfungsi sebagai tempat penyimpanan alat-alat upacara dari zaman Kerajaan Majapahit.

  • Candi Pari

Candi Pari diketahui berada di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Candi ini dibangun pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk sebagai tempat untuk mengenang hilangnya seorang adik angkatnya yaitu salah satu putra Prabu Brawijaya.

  • Candi Kedaton

Candi ini ditemukan di dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Dibangun sekitar tahun 1370 M, Candi Kedaton belum diketahui fungsinya secara jelas. Namun menurut cerita rakyat sekitar difungsikan sebagai tempat para punggawa kerajaan menghadap raja. Hal ini dikarenakan bangunan candi yang berbentuk datar dengan ruang-ruang pertemuan.

  • Candi Minak Jinggo

Candi ini terletak di wilayah dusun Unggahan, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Menurut beberapa sumber, Candi ini telah ada pada jaman pemerintahan Majapahit yang artinya Candi Minak Jinggo merupakan peninggalan kerajaan Singasari. Candi ini difungsikan sebagai tempat pemujaan para raja dan keluarga kerajaan yang memeluk agama Hindu.

  • Candi Grinting

Terletak di Dusun Grinting, Desa Karangjeruk, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Candi Grinting ditemukan oleh pengrajin batu bata dan diduga sebagai sebuah pondasi bangunan lama.

  • Candi Jolotundo

Candi megah yang satu ini terletak di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Bentuknya berupa petirtaan dan konon dipergunakan untuk kolam pemandian para raja. Candi Jolotundro memiliki bentuk yang tidak biasa karena arsitektur bangunannya tampak megah. Menurut catatan sejarah, candi ini dibangun oleh Raja Udayana Bali yang menikah dengan Putri dari Jawa untuk menyamput kelahiran putra mereka yang diberi nama Airlangga.

  • Candi Gentong

Terletak di Desa Bejijong, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Candi Gentong dipergunakan sebagai tempat upacara untuk memperingati dan mengenang ibu dari raja Hayam Wuruk yaitu Tribuwana Wijaya Dewi.

Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit

Prasasti adalah sebuah piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama seperti batu. Kerajaan Majapahit juga memiliki berbagai peninggalan berupa prasasti yang membantu kita semua untuk mempelajari dan memahami kejadian di masa lampau. Adapun prasasti peninggalan Majapahit adalah :

  • Prasasti Kudadu (1294 M)

Prasasti ini dikeluarkan oleh Raden Wijaya sebagai raja pertama kerajaan Majapahit. Ditemukan di Gunung Butak yang merupakan perbatasan wilayah Malang dan Blitar Jawa Timur, Prasasti Kudadu ditulis pada lempengan tembaga pada tahun 1216 Saka atau bertepatan dengan 1294 M. Prasati ini berisi tentang pemberian gelar Raja Kertarajasa Jayawardhana kepada Raden Wijaya dan penerapan desa Kudadu sebagai daerah perdikan atau daerah yang dibebaskan dari membayar pajak.

  • Prasasti Sukamerta (1296 M)

Prasasti ini ditemukan di Gunung Penanggungan, Jawa Timur. Prasasti yang juga dikeluarkan oleh Raden Wijaya ini dibuat pada tahun 1296 M dan berisi tentang penetapan daerah Sukamerta sebagai daerah otonom. Prasasti ini juga menceritakan tentang perjalanan Raden Wijaya menyebrangi lautan untuk mengunjungi Pulau Madura.

  • Prasasti Balawi (1305 M)

Prasasri Balawi dikeluarkan oleh Raden Wijaya dan berisi tentang pengukuhan desa Balawi sebagai daerah perdikan. Prasasti ini dibubuhi tanda senjata berupa trisula. Selain itu, Prasasti Balawi ini beraksara Jawa Kuno dan diduga muncul di Dusun Blawi, Desa Blawirejo, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan.

  • Prasasti Waringin Pitu (1447 M)

Prasasti Waringin Pitu dibuat pada tahun 1447 M dan dikeluarkan oleh Sri Maharaja Wijaya Parakrama Wardhana Dyah Kertawijaya. Prasasti ini berisi tentang pengukuhan daerah Waringin Pitu sebagai daerah perdikan kerajaan yang bernama Rajasakusumapura. Prasasti ini ditemukan di daerah Kabupaten Mojokerto.

  • Prasasti Canggu (1358 M)

Prasasti ini ditemukan di daerah Trowulan Mojokerto dan berisi tentang pengaturan desa-desa yang ada di tepian sungai Bengawan Solo dan Brantas sebagai tempat penyeberangan.

  • Prasasti Biluluk I (1366 M), Biluluk II (1393 M), Biluluk III (1395 M), Biluluk IV

Prasasti Biluluk I sampai III ditemukan di Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan. Prasasti ini dikeluarkan oleh raja Hayam Wuruk yang mengatur tentang hak dari desa Biluluk dan Tanggulan.

  • Prasasti Karang Bogem (1387 M)

Prasasti ini dikeluarkan pada tahun 1387 M oleh Batara Parameswara Pamotan Wijayarajasa Dyah Kudamerta yang berisi tentang pengaturan tanah seorang patih tambak Karang Bogem.

  • Prasasti Katiden I (1392 M)

Prasasti ini merupakan peninggalan raja Wikramawardhana yang berisi tentang penetapan Gunung Lejar sebagai lokasi pusat bangunan suci.

  • Prasasti Alasantan 939 M

Prasasti Alasantan ditemukan tidak jauh dari candi Brahu yakni ditemukan di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Prasasti ini menyebutkan tentang candi Brahu.

Kitab Peninggalan Kerajaan Majapahit

Tidak hanya berjaya dalam bidang perekonomian dan kedaulatan saja, kerajaan Majapahit juga memiliki sastrawan dan budayawan yang telah menulis berbagai macam kitab untuk menggambarkan kondisi Majapahit pada masa itu.

  • Kitab Negarakertagama

Kitab ini ditulis oleh Dang Acarya Nadendra atau yang lebih dikenal dengan nama mpu Prapanca. Ditulis pada tahun 1365, kitab ini menceritakan tentang kondisi kerajaan Majapahit di masa kejayaannya pada masa kepemimpinan raja Hayam Wuruk.

  • Kitab Sutasoma

Kitab Sotasoma ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke 14. Kitab ini ditulis dalam bahasa Jawa Kuno yang berisi tentang ajaran untuk saling menghormati antar umat beragama, yang pada saat itu masih menganut agama Hindu dan Budha. Dalam kitab Sotasoma ini terdapat sebuah semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang sekarang ini dijadikan semboyan Negara Indonesia.

  • Kitab Kutaramanawa

Kitab ini ditulis oleh Mahapatih Gajah Mada, berisi tentang hukum tertulis yang mengatur beberapa hal seperti hutang piutang, jual beli, hukum perkawinan dan lain sebagainya. Kitab ini berisi 19 bab dan 275 pasal.

  • Kitab Kunjarakarna

Kitab yang berisi cerita tentang seorang Yaksa ini belum diketahui siapa pengarangnya. Kitab ini berupa prosa dalam aksara bahasa Jawa Kuno.

  • Kitab Panjiwijayakarma

Kitab ini menceritakan riwayat hidup Raden Wijaya mulai dari awal hingga beliau menjadi raja Majapahit. Kitab ini berbentuk kidung.

  • Kitab Tantu Panggelaran

Kitab ini diduga ditulis sekitar abad ke 15. Kitab yang beraksara bahasa Jawa Kuno ini menceritakan tentang asal usul pulau Jawa.

Masih banyak lagi kitab-kitab peninggalan kerajaan Majapahit yang belum diketahui penulisnya seperti Kitab Calon Arang, Kitab Usana Jawa, Kitab Usana Bali, Kitab Parthayajna, Kitab Pararaton, Kitab Sudayana, Kitab Ronggolawe dan Kitab Sorandakan.  Namun, semua kitab tersebut merupakan warisan budaya yang sangat berharga sehingga kita bisa mengenal sejarah panjang Kerajaan Majapahit

Arca Peninggalan Kerajaan Majapahit

Arca adalah sebuah patung yang dibuat untuk tujuan agama yaitu sebagai media atau sarana memuja Tuhan atau Dewa. Berikut ini adalah beberapa Arca peninggalan dari kerajaan Majapahit.

  • Arca Harihara

Arca ini merupakan penggabungan dari dewa Siwa dan Wisnu.

  • Bidadari Majapahit

Arca yang terbuat dari emas ini dibuat sebagai penanda masa keemasan kerajaan Majapahit.

  • Arca Dewi Parwati

Arca ini dianggap sebagai perwujudan ibunda raja Hayam Wuruk yaitu Anumerta Tribhuwanottunggadewi.

  • Arca Perapa Hindhu

Arca ini berasal dari jaman akhir kekuasaan Majapahit.

  • Patung Penjaga Gerbang

Arca ini ada sepasang dan berasal dari abad ke 14. Namun sayangnya arca yang satu ini disimpan di Museum of Asian Art, San Francisco-Amerika Serikat.

  • Arca Ratu Suhita

Arca ini ditemukan di daerah Tulungagung Jawa Timur, menggambarkan tentang Ratu Suhita yang memerintah pada tahun 1429 sampai 1447.

  • Arca Ganesha

Ganesha termasuk salah satu dewa yang diagungkan dalam kepercayaan masyarakat Hindu. Bentuk arca ini adalah patung gajah yang sedang duduk.

  • Arca Dewa Wisnu

Arca ini sangat terkenal dan menggambarkan raja Airlangga yang sedang mengendarai Garuda. Arca ini dianggap sebagai perwujudan dewa Wisnu.

  • Arca Minak Jinggo

Arca ini terletak di daerah Trowulan Mojokerto. Berasal dari reruntuhan candi, ditemukan sebuah arca yang pada awalnya disebut-sebut sebagai Arca Garudha. Namun masyarakat sekitar menyebutnya sebagai arca Minak Jinggo.

  • Patung Hutan Baluran

Ditemukan di lokasi hutan Baluran Situbondo, Arca ini dinyatakan sebagai gambaran Dewi Laksmi peninggalan era Majapahit. Arca ini ditemukan pada tahun 2013.

Selain Peninggalan Kerajaan Majapahit diatas, sebenarnya masih ada peninggalan Majapahit lainnya yang belum ditemukan ataupun sudah berpindah ke tangan kolektor benda bersejarah. Salah satu contohnya adalah patung kereta kerajaan Majapahit diantaranya adalah kereta Patih Amangkubhumi, kereta Sri Nata Wilwatikta, dan lain sebagainya.

Kerajaan Majapahit dengan segala kejayaannya di masa lampau dapat dibuktikan dengan peninggalan-peninggalannya. Semua peninggalan ini harus kita lestarikan dan pelihara agar kita dapat mengingat keberadaan kerajaan besar ini. Itulah beberapa peninggalan kerajaan Majapahit yang perlu Anda ketahui. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *